Berita Utama & Headline

Wong Chun Sen Minta Pemprov Sumut Antisipasi Dampak Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok

3
×

Wong Chun Sen Minta Pemprov Sumut Antisipasi Dampak Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok

Sebarkan artikel ini

Kenaikan BBM dan melemahnya daya beli masyarakat dinilai perlu segera direspons melalui operasi pasar, penguatan distribusi pangan, serta dukungan terhadap sektor produktif daerah.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Wong Chun Sen Tarigan, mengajak pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat memperkuat sinergi menjaga stabilitas ekonomi daerah di Sumatera Utara. Minggu (14/6/2026). (dahsyatnews.com/Foto: Ist).

Medan, dahsyatnews.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dibarengi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperberat beban ekonomi rumah tangga, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B, menilai situasi ekonomi saat ini memerlukan langkah cepat dan terukur dari pemerintah agar dampaknya tidak semakin dirasakan masyarakat luas.

Dalam keterangannya kepada wartawan pada Minggu (14/6/2026), Wong menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terhadap rupiah memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Biaya impor bahan baku industri meningkat, harga barang yang bergantung pada pasokan luar negeri ikut terdorong naik, dan pada akhirnya memengaruhi harga kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Kenaikan nilai dolar terhadap rupiah memicu lonjakan biaya impor dan meningkatkan tekanan inflasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga masyarakat kecil yang harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok setiap hari,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor maupun industri pariwisata, manfaat tersebut belum tentu langsung dirasakan masyarakat secara luas. Sebaliknya, kenaikan harga berbagai komoditas konsumsi justru lebih cepat dirasakan oleh warga.

Wong menyoroti meningkatnya harga sejumlah barang konsumsi, mulai dari bahan pangan hingga bahan bakar. Ia menilai kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas ekonomi apabila tidak segera diantisipasi.

“Kalau daya beli masyarakat terus menurun, maka perputaran ekonomi juga akan melambat. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.

Terkait kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp16.250 per liter, Wong menilai hal itu tidak terlepas dari tingginya harga minyak dunia serta tekanan nilai tukar rupiah. Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tidak boleh dibiarkan menanggung dampaknya tanpa adanya intervensi dan perlindungan dari pemerintah.

Karena itu, ia meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera mengambil langkah konkret guna menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok dan memastikan pasokan barang tetap tersedia di pasaran.

“Jangan sampai masyarakat panik karena harga-harga terus naik. Pemerintah harus hadir memberikan kepastian dan perlindungan kepada rakyat,” katanya.

Sebagai solusi, Wong mengusulkan sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah. Di antaranya memperluas pelaksanaan operasi pasar murah hingga ke daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses distribusi, memperketat pengawasan terhadap stok dan peredaran sembako, serta mencegah praktik penimbunan yang dapat memicu kenaikan harga.

Selain itu, ia mendorong adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, Bulog, distributor, dan pelaku usaha agar rantai distribusi kebutuhan pokok tetap berjalan lancar. Dukungan kepada petani, nelayan, dan pelaku UMKM juga dinilai penting untuk meningkatkan produksi lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Wong juga mengingatkan pentingnya penyampaian informasi yang benar kepada masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak. Menurutnya, edukasi publik diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh isu yang berpotensi memicu kepanikan.

“Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar. Jangan sampai isu kenaikan harga dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memainkan harga atau menimbulkan kepanikan di pasar,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengaku prihatin terhadap kondisi masyarakat kecil yang harus menghadapi tekanan ekonomi secara berlapis. Kelompok pekerja harian, buruh, dan pelaku usaha kecil disebut menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM.

“Kita harus memahami bahwa banyak masyarakat yang bekerja setiap hari hanya untuk bertahan hidup bersama keluarganya. Ketika BBM naik dan harga sembako ikut melonjak, kelompok inilah yang paling merasakan dampaknya,” ungkap Wong.

Ia pun mengajak seluruh unsur masyarakat, termasuk pemerintah dan pelaku usaha, untuk bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi daerah. Menurutnya, kolaborasi dan semangat gotong royong menjadi faktor penting agar Sumatera Utara mampu menghadapi tekanan ekonomi yang sedang terjadi.

“Gotong royong dan kepedulian sosial harus diperkuat. Pemerintah harus bergerak cepat, pelaku usaha harus berperan menjaga stabilitas harga, dan masyarakat harus tetap tenang. Dengan kerja sama yang baik, saya yakin Sumatera Utara mampu melewati tekanan ekonomi ini,” pungkasnya.

Penulis : Hara Oloan
Editor : Elvirahmi Tanjung