Dari hasil pemantauan warga, pondasi yang menjadi dasar pembangunan dinilai tidak dibuat dari awal. Sebaliknya, konstruksi baru disebut dibangun di atas struktur jembatan lama yang menurut masyarakat sudah mengalami penurunan kualitas.
Ketika dimintai penjelasan di lokasi, pelaksana proyek, Saidik, mengakui bahwa metode pelaksanaan memang dilakukan dengan memanfaatkan konstruksi jembatan lama sebagai dasar pembangunan baru.
Keterangan tersebut memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai dasar perencanaan teknis, pengawasan konsultan, hingga pengendalian mutu yang dilakukan oleh instansi terkait selama proyek berlangsung.
“Kami muak! Anggaran ratusan juta, hasilnya kayak tambal sulam. Ini jalur utama truk material berat lewat tiap hari. Kalau ambles siapa yang tanggung? Negara? Atau nyawa warga,” tegas Evadison dengan nada kecewa.
Ia juga mempertanyakan pihak yang memberikan persetujuan terhadap metode pekerjaan tersebut.
“Siapa yang menyetujui metode kerja seperti ini? Mana pengawasan dari Dinas terkait? Mana konsultan?” lanjut Evadison.












